Disuatu sore, musim panas, ketika dia berjalan menuju rumahnya, dengan penuh senyuman seperti biasanya, dia menemukan sebuah pot hitam yang besartergeletak ditanah.
"oh tuhan" katanya, "pot ini akan menjadi tempat yang bagus untuk menyimpan sesuatu apabila saya mempunyai apa apa yang dapat disimpan disana. sayangnya saya tidak memiliki apa apa. Siapa yang telah meletakkan pot ini disini?".
kemudian dia melihat kesekeliling berharap bahwa pemiliknya tidak jauh dari sana, tapi dia tidak melihat siapapun disana. " Mungkin pot ini memiliki lubang," katanya lagi," dan karena inilah potnya dibuang. Tapi pot ini akan sangat bagus bila saya meletakkan setangkai bunga dan menaruhnya di jendela rumahku, saya akan membawanya pulang".
Didalam pot tersebut dilihatnya tumpukan koin emas yang berkilap. Saat itu dia begitu terpana dan tidak bergerak sama sekali, kemudian akhirnya dia berkata "saya merasa sangat kaya sekarang, benar benar sangat kaya!".
Setelah dia mengucapkan kata-kata ini beberapa kali, dia mulai berfikir bagaimana dia dapat membawa harta karun itu kerumahnya. Pot berisi emas itu begitu berat untuk dibawa, dan dia tidak menemukan cara yang baik selain mengikat pot itu pada ujung selendangnya dan menariknya sampai kerumah.
"Sebentar lagi hari akan menjadi gelap," katanya sendiri dan mulai berjalan. "Ah...sekarang lebih baik, karena tetanggaku tidak akan melihat apa yang saya bawa pulang kerumah, dan saya bisa sendirian saja sepanjang malam, memikirkan apa yang saya kan lakukan dangan emas ini! mungkin saya akan membeli rumah yang besar dan duduk-duduk di perapian sambil menikmati secangkir teh dan tidak bekerja lagi seperti seorang ratu. Atau mungkin saya akan mengubur emas ini diteko tua ku, atau mungkin wah...wah...saya merasa tidak mengenal diri saya sekarang".
Sekarang dia merasa lelah karena menarik pot yang berat itu, berhenti sejenak untuk beristirahat, dan berbalik untuk melihat ke hartanya. Dan dilihatnya pot itu tidak berisi emas, tapi hanya tumpukan koin perak di dalamnya.
Dia menatap pot itu dan menggosok matanya, dan menatap kembali. " Saya berfikir bahwa pot tadi berisi emas, saya mungkin bermimpi, tapi ini adalah keberuntungan, perak lebih tidak menyusahkan , gamang dipakai, dan tidak mudah dicuri. Koin emas mngkin membawa kematian untuk saya, dan dengan setumpuk koin perak ini."
kemudian dia berjalan lagi sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya, dan merasa seperti orang kaya, dan akhirnya dia keletihan lagi dan berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman, dan saat itu dia tidak lagi melihat perak, melainkan setumpuk besi.
"Saya menyangka pot itu berisi perak, saya pasti bermimpi, tapi ini adalah keberuntungan sungguh menyenangkan. Saya dapat menjual dan mendapatkan satu penny untuk satu besi tua ini, dan satu penny lebih gampang di bawa dan di atur dibandingkan emas dan perak. Mengapa? karena saya tidak harus tidur dengan gelisah karena takut di rampok. Tapi satu penny betul-betul dapat berguna dan saya seharusnya menjual besi-besi itu dan menajadi kaya, benar-benar kaya".
Kemudian dia berjalan lagi sambl memikirkan apa yang harus dilakukannya dengan uang pennynya nantik, hingga sekali lagi dia berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman, dan kali ini dia tidak melihat apa-apa selain batu-batu besar dalam pot itu.
"Saya menyangka pot itu berisi besi, saya pasti bermimpi, tapi ini adalah keberuntungan, karena saya sudah lama menginnginkan batu besar untuk menahan agar pintu pagar saya tetap ternuk. Sungguh hal yang baik memiliki keberuntungan".
Dia sangat ingin melihat bagaimana batu itu nanti bisa menahan pintu pagar agar selalu terbuka, dia akhirnya berjalan terus hingga tiba di pondoknya. Dia membuka pintu pagarnya, berbalik untuk melepaskan selendangnya dari batu besar yang tergeletak dibelakangnya. Tetapi apa yang dilihatnya bukan lah batu besar, melainkan serpihan serpihan batu.
Sekarang dia membungkuk dan melepaskan ujung selendangnya, dan "oh!" tiba-tiba dia terlonjak kaget, sebuah jeritan, dan makhluk yang sebesar tumpukan jerami, dengan empat kaki yang panjang dan dua telinga yang panjang, memiliki ekor panjang menendang-nendang ke udara sambil memekik dan tertawa seperti anak yang nakal.
"Baiklah!" katanya sambil tertawa, "Saya beruntung! cukup beruntug. Sungguh senang bisa melihat hantu jadi-jadian dengan kepala sendiri, dan bebas darinya juga. Ya tuhan, saya merasa sangat bahagia!"
Kemudian dia masuk ke pondokannya dan tertawa sepanjan malam membayangkan kejadian tadi dan merasa betapa beruntungnya dia hari ini.***
sumber: Riau POS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar